Stafsus Menhan Lenis Kogoya Sampaikan Tiga Poin Tegas kepada TPNPB-OPM: Hentikan Kekerasan dan Lindungi Warga Papua
JAKARTA – Staf Khusus Menteri Pertahanan (Stafsus Menhan) Bidang Kedaulatan Negara, Lenis Kogoya, menyampaikan tiga poin tegas kepada juru bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom beserta kelompoknya. Seruan tersebut menekankan penghentian provokasi, pengosongan wilayah Wamena dan sekitarnya, serta penghentian seluruh aksi kekerasan terhadap masyarakat sipil di Tanah Papua.
Pernyataan tersebut disampaikan pada 11 Agustus 2026, di tengah meningkatnya perhatian terhadap situasi keamanan di Papua. Lenis menyoroti sejumlah tindakan kekerasan yang menurut laporan terjadi dalam beberapa waktu terakhir, termasuk intimidasi, penganiayaan, pembunuhan terhadap guru dan misionaris, serta pembakaran fasilitas sekolah.
Tiga Poin yang Disampaikan Lenis Kogoya
Dalam seruannya, Lenis menyampaikan tiga tuntutan utama kepada TPNPB-OPM.
Pertama, menghentikan penyebaran isu provokatif melalui media massa serta ancaman pembunuhan terhadap warga sipil dan pemerintah daerah.
Kedua, meminta kelompok tersebut segera meninggalkan dan mengosongkan wilayah ibu kota Wamena dan sekitarnya, terutama agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat maupun persiapan peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia.
Ketiga, menghentikan seluruh bentuk kekerasan, pembunuhan, dan penyiksaan terhadap Orang Asli Papua (OAP) maupun warga sipil lainnya.
Tiga poin tersebut menunjukkan bahwa perlindungan masyarakat sipil ditempatkan sebagai perhatian utama dalam seruan tersebut.
Lenis Tegaskan Tanggung Jawab Melindungi Masyarakat Sipil
Lenis, yang juga merupakan Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Tanah Papua, menyatakan bahwa dirinya memiliki mandat dari tujuh wilayah adat di Papua serta tanggung jawab berdasarkan konstitusi untuk melindungi masyarakat sipil dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ia juga memperingatkan bahwa apabila tiga poin tersebut tidak dipatuhi, para pemilik hak ulayat dan masyarakat adat akan mengambil sikap.
Pernyataan tersebut memperlihatkan adanya dorongan agar persoalan keamanan Papua tidak hanya ditangani melalui pendekatan keamanan, tetapi juga melibatkan masyarakat adat sebagai bagian dari upaya menjaga kedamaian di wilayah tersebut.
Pemerintah dan Tokoh Adat Dorong Situasi Tetap Kondusif
Lenis mengingatkan masyarakat di wilayah La Pago, Mee Pago, dan sekitarnya untuk tetap tenang serta tidak panik menghadapi berbagai isu keamanan yang beredar.
Ia memastikan pemerintah bersama para tokoh adat berkomitmen menjaga situasi agar pembangunan, pelayanan publik, dan aktivitas masyarakat dapat terus berlangsung dengan aman dan damai.
Pesan tersebut menjadi penting karena stabilitas keamanan merupakan salah satu faktor yang mendukung keberlangsungan pelayanan publik dan pembangunan di Papua.
Momentum HUT ke-81 RI Harus Dijaga
Seruan tersebut juga disampaikan menjelang peringatan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026. Pemerintah dan aparat keamanan berkepentingan memastikan masyarakat dapat mengikuti berbagai kegiatan peringatan kemerdekaan tanpa intimidasi maupun gangguan keamanan.
Dengan melibatkan unsur pemerintah, aparat keamanan, dan tokoh adat, upaya menjaga situasi kondusif diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan tetap memperhatikan kondisi masyarakat setempat.
Mengutamakan Perlindungan Warga dan Pembangunan
Di tengah dinamika keamanan Papua, perlindungan terhadap warga sipil menjadi kepentingan bersama. Kekerasan yang mengganggu masyarakat dapat berdampak langsung terhadap pendidikan, pelayanan kesehatan, aktivitas ekonomi, dan pembangunan daerah.
Karena itu, seruan penghentian kekerasan yang disampaikan Lenis Kogoya menjadi bagian dari dorongan untuk menciptakan ruang kehidupan yang lebih aman bagi masyarakat Papua.
Pemerintah juga terus menekankan pentingnya menjaga stabilitas agar berbagai program pembangunan dan pelayanan publik dapat berjalan secara berkelanjutan.
Pesan Utama: Hentikan Kekerasan, Jaga Masyarakat Papua
Tiga poin yang disampaikan Stafsus Menhan tersebut pada intinya menempatkan penghentian kekerasan dan perlindungan warga sipil sebagai prioritas.
Di sisi lain, pemerintah bersama tokoh adat mengajak masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.
Dengan mengedepankan keamanan, perlindungan masyarakat sipil, peran masyarakat adat, serta keberlanjutan pembangunan, pemerintah berharap kondisi Papua dapat semakin stabil sehingga masyarakat dapat menjalankan kehidupan sehari-hari dengan aman dan damai.

Komentar
Posting Komentar